SAAT SEKOLAH HARUS DARI RUMAH

Sudah hampir dua bulan lebih Pemerintah menerapkan social distancing bahkan sampai ke phisically distancing serta meminta anak anak untuk belajar dari rumah ditengah merebaknya pandemi virus corona. Tidak hanya siswa yang terkena, para pekerja pun mulai menerapkan kedua sistem tersebut serta bekerja dari rumah. Langkah tersebut diambil untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona di Indonesia. Imbauan untuk bersekolah di rumah pun tidak sepenuhnya mudah untuk dilakukan. Sekolah, guru maupun siswa itu sendiri diharapkan untuk beradaptasi pada situasi pembelajaran yang harus dilakukan di rumah. Rumah menjadi tempat untuk berkumpul, bercanda, serta beristirahat di tengah kesibukan bekerja ataupun bersekolah, kini diubah menjadi situasi nyaman untuk belajar dan bekerja.

            Tiap-tiap sekolah pun mendukung arahan Menteri Pendidikan Bapak Nadiem Makarim dalam surat edaran bertanggal 24 Maret 2020 yang mengatur pelaksanaan pendidikan pada masa darurat penyebaran corona virus. Kebijakan “Belajar dari Rumah” hingga kini masih dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Indonesia. Begitu juga SMK Marsudirini yang sudah menerapkan imbauan Belajar dari Rumah. Sekolah menerapkan tatap muka kelas jarak jauh dengan fasilitas google classroom, grup WhatsApp dan platform lain yang disediakan pemerintah, yang pastinya diawasi dan dikontrol oleh sekolah. Setiap pekannya sekolah pun mengevaluasi berjalannya sistem pembelajaran dari rumah ini sehingga setiap permasalahan yang muncul terselesaikan. Setiap guru mata pelajaran berusaha untuk tetap menggapai dan meraih siswa-siswi untuk tetap mengikuti pembelajaran meskipun dengan tidak bertatap muka.

            Prima Cinta Dewi, salah satu siswa SMK Marsudirini kelas X Boga C menuturkan, dari situasi yang mengharuskan siswa-siswi belajar di rumah ini Ia mengambil sisi positifnya, yaitu tepat waktu dalam mengerjakan tugas sekolah. Meskipun begitu pasti ada sisi kurang enaknya katanya “ Yang biasanya bisa langsung bertanya pada guru apabila kurang jelas, sistem online begini susah, dijelaskan di WhatsApp terkadang suka gak jelas”. Namun hal ini dapat terselesaikan dengan guru memberikan fasilitas diskusi serta penjelasan dapat dengan menelepon untuk menanyakan materi pembelajaran yang kurang jelas.

Hal serupa juga dituturkan oleh Diah Febriani (X AP A) “Sistem pembelajaran online di sekolah kita sudah baik, dilengkapi dengan jadwal yang jelas serta durasi yang hampir mirip dengan durasi pembelajaran di sekolah pada umumnya”. Adapun hambatan yang dialaminya seperti internet yang digunakan terkadang kurang bagus.

“Dalam situasi memutus penyebaran covid-19 pastinya kita hanya bisa diam saja dirumah dan melakukan aktivitas dari rumah tapi tidak memgakhiri semangat saya untuk meraih ilmu pengetahuan. Dalam pembelajaran online yang saya jalani sampai saat ini benar-benar membuat saya jadi mandiri, disiplin, dan berkreativitas tentunya.” ujar Puspa Yoga (X AP B). Ia pun menambahkan, “Materi-materi yang telah diberikan Bapak/Ibu guru, saya dapat mencarinya juga dari berbagai sumber dan media terkait pembahasan pada topik yang diajarkan”.

            Berbagai kegiatan pembelajaran siswa-siswi pun didokumentasikan, baik foto maupun video, lalu dilaporkan melalui pelantar (platform) tersebut kepada guru. Tak semua sekolah menjalankan jadwal ketat daring di rumah. Setiap guru memiliki kebijaksanaan masing-masing dalam mengajar dan membiarkan siswa-siswinya untuk berkreasi dalam mengerjakan setiap tugas yang diberikan. Mereka dibiarkan untuk bertanggung jawab dengan tugas masing-masing.

            Mega Utami (X Busana) menuturkan “Sistem pembelajaran online di sekolah sudah sangat baik, biasanya diawali dengan pemberian materi, diskusi kemudian adanya kuis di pembelajaran berikutnya, jadi kita tidak bosan dan jenuh. Ketika diadakan kuis membuat siswa semakin semangat, begitu pun ketika kita diminta berkreasi membuat video, kami senang karena bisa kreatif dan tidak bosan belajar”.

            “Janganlah malas ketika pembelajaran dilaksanakan terlebih saat ini dilaksanakan dirumah. Jadikan rumah tempatmu nyaman untuk belajar, berkreativitas yang kita miliki. Semua akan terasa menyenangkan, tetap semangat dan selalu berkreativitas” pesan Desintha Ratih (XI Boga B)

Pada hakikatnya di rumah dan di keluarga, mereka diasah untuk memiliki karakter, kepekaan, tata krama, sosialisasi dan masih banyak lagi, hingga kemudian sekolah dan para guru melanjutkannya dengan memperkaya ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan di kelas. Kesadaran akan rumah sebagai sekolah pertama bagi anak-anak pun kian dirasakan dalam situasi saat ini. Hal ini pun tidak luput dari peran  serta sekolah sebagai rumah kedua bagi mereka, yang kini sebagian dari mereka pastinya rindu untuk hadir di sekolah, rindu bersosialisasi, berjumpa dengan para guru, bersendau gurau dengan teman. Itu pun yang dirasakan oleh siswa-siswa SMK Marsudirini, banyak hal yang mereka rindukan tentang sekolah dan segala isinya.

Salma (XI Boga B) menuturkan, “Banget, serindu-rindunya dengan sekolah. Suasana sekolah dan kelas, teman-teman yang menjengkelkan tapi banyak membuat tertawa, para guru yang tegas namun tidak selalu lupa memberikan motivasi dan semangat. Bahkan situasi seperti ini kami saling memberikan semangat dengan teman dan para guru selalu mengingatkan dan memberikan semangat pula”.

Situasi global saat ini meminta hati kita untuk menurunkan standar kesempurnaan, begitu pun ketika pelaksanaan Belajar dari Rumah dan bersikap terhadap siswa-siswi. Jadikan momen Belajar dari Rumah ini diisi dengan kegembiraan, semangat dan optimis dalam menghadapi krisis ini. Seperti judul film yang beberapa saat lalu sedang trending, setelah wabah ini selesai, nanti kita cerita tentang hari ini J

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *